Senin, 17 Juni 2013

DE GAGA JAGO

MMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMKJH KBJ

STENOSIS AORTA

STENOSIS AORTA

. DEFENISI      
            Aorta stenosis adalah penyempitan pada lubang katup aorta yang menyebabkan meningkatnya tahanan terhadap aliran darah dari ventrikel kiri ke aorta (Idrus Alwi,2005)
Ada beberapa kondisi yang berakibat pada penyempitan dari klep aorta. Ketika derajat dari penyempitan menjadi cukup signifikan untuk menghalangi aliran darah dari bilik kiri ke arteri-arteri, maka persoalan-persoalan jantung mulai berkembang.

B. ETIOLOGI
Menurut Brunner&Suddarth (2005) ada beberapa kondisi yang menimbulkan terjadinya stenosis pada aorta yaitu :
1. Kalsifikasi senilis / degenerative
     Sering terjadi pada individu diatas usia 65 tahun oleh karena proses degenerative.
2. Rheumatic Heart Disease
            Merupakan suatu penyakit inflamasi akut yang sering diawali dengan adanya peradangan pada faring (Saluran pernapasan atas) dan disebabkan oleh kuman Streptococcus Beta Hemolyticus Grup A.Selain oleh adanya kuman, juga disebabkan oleh adanya penurunan daya tahan tubuh terhadap kuman tersebut. Demam reumatik dapat menyerang semua lapisan jantung dan katup karena Host pada jantung sama dengan saluran napas atas.
3. Kelainan Kongenital

 C. MANIFESTASI KLINIK
1. Pada tahap asimtomatik, stenosis aorta tidak menimbulkan gejala khas akan tetapi saat di aukultasi akan terdengar murmur sistolik di intercosta 2 dan intercosta 3 sebelah kanan sternum (paling keras terdengar di daerah apek dan aorta).
2. Pada tahap lanjut (simtomatik) maka aorta stenosis dapat menimbulkan gejala yang khas yaitu  nyeri dada, syncope dan Dyspnea
► Dyspnea : merupakan dekompensasi ventrikel kiri terhadap adanya kongesti paru
► Syncope : Terjadi akibat menurunnya cardiac output sehingga perfusi ke otak berkurang
►Angina : timbul akibat ketidakseimbangan suplai oksigen dengan kebutuhan oksigen miokard serta adanya pe urunan aliran darah koroner.
Gejala lain yang timbul yaitu palpitasi yang disebabkan oleh karena ventrikel kiri meningkatkan kekuatan denyutan jantung untuk memompa darah lebih banyak.Pada tahap lanjut maka akan timbul Gagal jantung kiri, akibat peningkatan beban ventrikel kiri sehingga otot jantung kiri mengalami hipertropi sebagai respon terhadap besarnya obstruksi dan bila obstruksi semakin membesar makam mengakibatkan penurunan fungsi jantung kiri.


D.    Pemeriksaan Diagnostik
1. Radiologi
            a. Pembesaran jantung ( CTR > 50%)
            b. Peningkatan Vaskularisasi Paru
            c. Kalsifikasi katup arota dapat terlihat pada pemeriksaan Flouroscopy
            d. Dilatasi aorta asenden dan dilatasi ventrikel kiri
2. Elektrokardiogram
            a. LVH ( Left Ventrikel Hypertropi)
            b. LBBB ( Left Bundle Branch Block)
            c. LAD ( Left axis Deviasi)
            d. Atrial Fibrilasi
3. Echocardiografi
Ditemukan adanya aorta stenosis, kalsifikasi pada daerah aorta, hipertropi ventrikel kiri dan atrium kiri membesar.
4. Kateterisasi
            a. Hemodinamik
Pada hemodinamik terjadi peningkatan tekanan sistolik ventrikel kiri dan LVEDP selain itu juga terjadi peningkatan PCWP dan terdapat perbedaan gradient tekanan ventrikel kiri dan aorta lebih dari 50 mmHg.
            b. Kalkulasi area katup aorta
            ► Normal : 3.0 – 3.5 cm²
            ► Midstenosis aorta : 1.0 – 1.5 cm²
            ► Moderate stenosis aorta: 0.85 – 1.0 cm²
            ► Severe stenosis aorta : < 0.85 cm²
                                                           
E. KOMPLIKASI
1. Kematian mendadak oleh karena aritmia ventrikel
2. Gagal jantung kiri
3. Gangguna sistem konduksi
4. Emboli
5. Endokarditis

F. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Paliatif
     Tindakan BAV ( Ballon Aortic Valvuloplasty) adalah memasukkan balon melalui septum atrial. Ballon dikembangkan dengan larutan angiografi cair dan lebih sering melalui aorta serta melintasi katup aorta dan ventrikel kiri. Ketika balon dikembangkan, katup aorta tidak akan menutup sama sekali sehingga memungkinkan aliran darah mengalir ke aorta. Namun prosedur ini  tidak efektif, hampir 50% dalam 12 -15 bulan pasca BAV  stenosis akan kambuh kembali (Brunner & Suddarth 2002). Prosedur ini bermanfaat sebagai tindakan jangka pendek / sementara, sebelum tindakan penggantian katup aorta.Tindakan ini akan meningkatkan ukuran dari katup aorta sekitar 0.5 – 0.8 cm² (Susan L Wood,2005).
Tindakan BAV dilakukan tergantung dari derajat (mid,moderate,severe) stenosis aorta, ada tidaknya penyakit penyerta (seperti vegetasi) dan usia.
2. Pembedahan
a. Repair
Proses Repair dibagi menjadi 2 yaitu anuloplasthy dan perbaikan bilah.
a.1 Anuloplasty
Anuloplasty adalah perbaikan annulus katup (jaringan yang menghubungkan antara bilah-bilah katup dengan otot jantung). Anuloplasty menggunakan 2 cara yang berbeda salah satunya dengan menggunakan cincin anuloplasty dimana bilah katup dijahitkan ke cincin dan membentuk annulus dengan ukuran yang diinginkan. Cara lain yaitu dengan cara mengikat bilah katup ke atrium atau membuat kerutan untuk menengangkan annulus.
a.2 Perbaikan Bilah
Bilah katup jantung yang mengalami pemanjangan, bergelembung atau berlebihan maka akan dibuang atau dipotong kelebihan dari jaringan tersebut. Jaringan yang memanjang dapat dilipat balik dan dijahit diatas jaringan itu sendiri (Plikasi Bilah). Bilah yang pendek biasanya diperbaiki dengan Cordoplasty (Perbaikan corad tandinae). Selain itu dapat pula dilakukan insisi berbentuk baji pada bagian tengah bilah yang kemudian celah yang ada dijahit (Reseksi bilah).
b. Replacement
Penggantian katup merupakan cara yang efektif untuk mengatasi stenosis aorta tahap lanjut (Severe) yang disertai gejala-gejala stenosis aorta seperti angina, syncope dan heart failure.
Penggantian katup tergantung pada status fungsional pasien, disfungsi ventrikel dan adanya vegetasi.
Penggantian katup menggunakan 4 macam katup prostetik, yaitu :
1) Katup Mekanik
Berbentuk bola dan cakram, lebih kuat dibandingkan dengan katup prostetik lainnya dan biasa digunakan pada pasien usia muda. Katup mekanik memerlukan antikoagulasi sepanjang hidup dengan pengencer darah seperti warfarin, untuk mencegah terjadinya tromboemboli.





    


   Mechanical valve      
        
                                    
2) Xenograf
Adalah katup jaringan (Bioprosthesis atau heterograft) biassanya berasal dari babi, tapi dapat pula berasal dari katup sapi, viabilitasnya bisa mencapai 7 – 10 tahun. Tidak menyebabkan thrombus sehingga tidak memerlukan antikoagulan, umumnya digunakan untuk pasien usia >70 tahun dengan riwayat ulkus peptikum dan kontraindikasi terhadap antikoagulan serta pada wanita usia subur.

                                                Tissue valve


3) Homograf (Katup dari manusia)
Diperoleh dari donor, jaringan yang diambil dari katup aorta, katup pulmonal dan sebagian dari arteri pulmonalis yang disimpan secara kriogenik. Homograf sangat mahal dan tidak bersifat trombogenik.
4) Otograf
Diperoleh dengan memotong katup pulmonal dan sebagian arteri pulmonalis sebagai pengganti katup aorta.
                                                                        Sumber ; Brunner & Suddarth, 2005.
3. Medikamentosa
            a. Nitrogliserin Oral ( sublingual ) diberika bila ada angina
            b. Diuretik dan Digitalis diberikan bila ada tanda gagal jantung
            c. Statin dianjurkan untuk  mencegah kalsifikasi daun katup aorta
d. Antikoagulan, pada pasien menggunakan katup mekanik penggunaan antikoagulan 
    seumur hidup, sedangkan pada katup bioprostetik penggunaan  antikoagulan selama 
    fase awal saja biasanya selama 5 hari. Sementara untuk preventif penggunaan Heparin
    3-4 bulan.
e. Antibiotik digunakan untuk profilaksis diantaranya amoxilin, eritromicin, ampicilin,
    gentamizin, dan vancomicyn.
f. Diet rendah garam
g. Hindari aktivitas berat seperti mengangkat beban berat dan lari
                                                                                                 ( www. Mediastore .com )
G.  ASUHAN KEPERAWATAN
      1. Pengkajian
·         Keadaan umum : pasien tampak lemah / tampak sesak, kesadaran composmentis, apatis, somnolen, sofor dan coma.
·         Tanda-tanda vital : Berat Badan ( BB ) dan Tinggi Badan ( TB )
·         Pemeriksaan kepala dan leher : pasien tampak gelisah, wajah pucat, konjungtiva anemis, skelera ikterik, eksoptalmus, ptechie, bibir sianosis, hidung simetris, keluhan pusing, nyeri kepala dan pingsan.
·         Menilai arteri carotis : penurunan  pulsasi arteri carotis, bising ( Bruit ) saat auskultasi.
·         Pemeriksaan dada :  obsrevasi gerakan pernafasan ( frekuensi, irama, kedalaman nafas), kesimetrisan dada, suara nafas vesikuler /  ronchi, saat palpasi teraba thrill di daerah aorta, kaji bising stenosis aorta. ( suara paling keras, sepanjang atas sternum dan menjadi lemah di area afek dan aksila dan atau systolik yang kasar disela iga 2-3 sebelah kanan sternum.
·         Pemerikaaan abdomen : adanya bruit, atau bising pembuluh oleh karena stenosis yang menyangkut pembuluh-pembuluh cabang aorta, kesimetrsan bentuk abdomen ( asites, hepatomegali )
·         Pemerikasaan kulit / ekstremitas : akral hangat atau dingin , kulit lembab atau kering, sianosis, adanya edema
·         Pemeriksaan kuku : sianosis perifer, cavilary refill


2. Diagnosa Keperawatan
a.    Penurunan curah jantung b.d gangguan fungsi katup aorta
b.   Gangguan rasa nyaman nyeri dada b.d penurunan suplai darah dan oksigen ke koroner
c.    Intoleran aktivitas b.d  suplai dan kebutuhan oksigen tidak seimbang
d.   Kurang pengetahuan tentang penyakitnya b.d kurangnya informasi
3.      Intervensi Keperawatan
a.    Penurunan curah jantung b.d gangguan fungsi katup aorta
·         Observsi tanda- tanda vital
·         Berikan posisi yang nyaman ; semi fowler
·         Observasi terjadinya syncope
·         Monitor capillary refile dan pulsasi arteri perifer
·         Anjurkan untuk tirah baring total
·         Bantu aktifitas sehar-hari sebagian atau seluruhnya
·         Observasi tanda-tanda penurunan curah jantung (Mudah lelah, akral dingin, pucat)
·         Kolaborasi dalam pemberian oksigen sesuai indikasi
·         Kolaborasi dalam pemberian therapy digitalis
b.   Gangguan rasa nyaman nyeri dada b.d penurunan suplai darah dan oksigen ke koroner
·         Kaji lokasi, skala, durasi dan frekuensi nyeri
·         Monitor tanda-tanda vital
·         Batasi aktifitas klien
·         Ajarkan tehnik relaksasi
·         Rekam dan monitor EKG 12 lead
·         Berikan posisi yang nyaman dan batasi pengunjung
·         Kolaborasi dalam pemberian terapi nitrat dan oksigen sesuai indikasi
c.    Intoleran aktivitas b.d  suplai dan kebutuhan tidak seimbang
·         Monitor tanda-tanda vital
·         Kaji kemampuan pasien dalam beraktivitas
·         Anjurkan pasien untuk istiraht
·         Beri lingkungan yang nyaman dan tenang
·         Berikan penjelasan untuk tidak mengunakan energy yang berlebihan seperi   mengedan ketika BAB.
·         Hentikan aktifitas bila pasien nyeri dada
d.   Kurang pengetahuan tentang penyakitnya b.d kurangnya informasi
·         Kaji tingkat pengetahuan pasien akan kondisi kesehatannya
·         Berikan informasi mengenai aktifitas yang boleh dilakukan selama sakit, intake nutrisi yang adekuat serta beberapa efek obat.
             






Kamis, 18 April 2013

ASKEP VSD

ASUHAN KEPERAWATAN VENTRICULAR SEPTAL DEFECT

A. Konsep Dasar Penyakit
1. Pengertian
VSD adalah suatu keadaan abnormal yaitu adanya pembukaan antara ventrikel kiri dan ventrikel kanan.(Rita &Suriadi, 2001).
VSD adalah adanya hubungan (lubang) abnormal pada sekat yang memisahkan ventrikel kanan dan ventrikel kiri. (Heni dkk, 2001).
VSD adalah kelainan jantung berupa tidak sempurnanya penutupan dinding pemisah antara kedua ventrikel sehingga darah dari ventrikel kiri ke kanan, dan sebaliknya. Umumnya congenital dan merupakan kelainan jantung bawaan yang paling umum ditemukan (Junadi, 1982)
Jadi VSD merupakan kelainan jantung bawaan (kongenital) berupa terdapatnya lubang pada septum interventrikuler yang menyebabkan adanya hubungan aliran darah antara ventrikel kanan dan kiri
2. Penyebab
Penyebab terjadinya penyakit jantung bawaan belum dapat diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa faktor yang diduga mempunyai pengaruh pada peningkatan angka kejadian penyakit jantung bawaan (PJB) yaitu :
1        Faktor prenatal (faktor eksogen)
Ø  Ibu menderita penyakit infeksi : Rubela
Ø  Ibu alkoholisme
Ø  Umur ibu lebih dari 40 tahun
Ø  Ibu menderita penyakit DM yang memerlukan insulin
Ø  Ibu meminum obat-obatan penenang
2                                Faktor genetic (faktor endogen)
Ø  Anak yang lahir sebelumnya menderita PJB
Ø  Ayah/ibu menderita PJB
Ø  Kelainan kromosom misalnya sindrom down
Ø  Lahir dengan kelainan bawaan yang lain
Kelainan ini merupakan kelainan terbanyak, yaitu sekitar 25% dari seluruh kelainan jantung. Dinding pemisah antara kedua ventrikel tidak tertutup sempurna. Kelainan ini umumnya congenital, tetapi dapat pula terjadi karena trauma. Kelainan VSD ini sering bersama-sama dengan kelainan lain misalnya trunkus arteriosus, Tetralogi Fallot.
3. Patofisiologi
Defek septum ventricular ditandai dengan adanya hubungan septal yang memungkinkan darah mengalir langsung antar ventrikel, biasanya dari kiri ke kanan. Diameter defek ini bervariasi dari 0,5 – 3,0 cm. Perubahan fisiologi yang terjadi dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Tekanan lebih tinggi pada ventrikel kiri dan meningklatkan aliran darah kaya oksigen melalui defek tersebut ke ventrikel kanan.
2.      Volume darah yang meningkat dipompa ke dalam paru, yang akhirnya dipenuhi darah, dan dapat menyebabkan naiknya tahanan vascular pulmoner.
3.      Jika tahanan pulmoner ini besar, tekanan ventrikel kanan meningkat, menyebabkan piarau terbalik, mengalirkan darah miskin oksigen dari ventrikel kanan ke kiri, menyebabkan sianosis.
Keseriusan gangguan ini tergantung pada ukuran dan derajat hipertensi pulmoner. Jika anak asimptomatik, tidak diperlukan pengobatan; tetapi jika timbul gagal jantung kronik atau anak beresiko mengalami perubahan vascular paru atau menunjukkan adanya pirau yang hebat diindikasikan untuk penutupan defek tersebut. Resiko bedah kira-kira 3% dan usia ideal untuk pembedahan adalah 3 sampai 5 tahun.
4. Tanda dan Gejala
Ø   Pada VSD kecil: biasanya tidak ada gejala-gajala. Bising pada VSD tipe ini bukan pansistolik,tapi biasanya berupa bising akhir sistolik tepat sebelum S2.
Ø   Pada VSD sedang: biasanta juga tidak begitu ada gejala-gejala, hanya kadang-kadang penderita mengeluh lekas lelah., sering mendapat infeksi pada paru sehingga sering menderita batuk.
Ø   Pada VSD besar: sering menyebabkan gagal jantung pada umur antara 1-3 bulan, penderita menderita infeksi paru dan radang paru. Kenaikan berat badan lambat. Kadang-kadang anak kelihatan sedikit sianosis
Ø   gejala-gejala pada anak yang menderitanya, yaitu; nafas cepat, berkeringat banyak dan tidak kuat menghisap susu. Apabila dibiarkan pertumbuhan anak akan terganggu dan sering menderita batuk disertai demam.
5. Klasifikasi
Klasifikasi VSD berdasarkan pada lokasi lubang, yaitu:
a.        perimembranous (tipe paling sering, 60%) bila lubang terletak di daerah pars membranaceae septum interventricularis,
b.        subarterial doubly commited, bial lubang terletak di daerah septum infundibuler dan sebagian dari batas defek dibentuk oleh terusan jaringan ikat katup aorta dan katup pulmonal,
c.        muskuler, bial lubang terletak di daerah septum muskularis interventrikularis.
6. Gambaran klinis
Menurut ukurannya VSD dapat dibagi menjadi:
a. VSD kecil
Ø   Biasanya asimptomatik
Ø   Defek kecil 1-5 mm
Ø   Tidak ada gangguan tumbuh kembang
Ø   Bunyi jantung normal, kadang ditemukan bising peristaltic yang menjalar ke seluruh tubuh pericardium dan berakhir pada waktu distolik karena terjadi penutupan VSD
Ø   EKG dalam batas normal atau terdapat sedikit peningkatan aktivitas ventrikel kiri
Ø   Radiology: ukuran jantung normal, vaskularisasi paru normal atau sedikit meningkat
Ø   Menutup secara spontan pada umur 3 tahun
Ø   Tidak diperlukan kateterisasi
b. VSD sedang
Ø   Sering terjadi symptom pada bayi
Ø   Sesak napas pada waktu aktivitas terutama waktu minum, memerlukan waktu lebih lama untuk makan dan minum, sering tidak mampu menghabiskan makanan dan minumannya
Ø   Defek 5- 10 mm
Ø   BB sukar naik sehingga tumbuh kembang terganggu
Ø   Mudah menderita infeksi biasanya memerlukan waktu lama untuk sembuh tetapi umumnya responsive terhadap pengobatan
Ø   Takipneu
Ø   Retraksi bentuk dada normal
Ø   EKG: terdapat peningkatan aktivitas ventrikel kiri maupun kanan, tetapi kiri lebih meningkat. Radiology: terdapat pembesaran jantung derajat sedang, conus pulmonalis menonjol, peningkatan vaskularisasi paru dan pemebsaran pembuluh darah di hilus.
c. VSD besar
Ø   Sering timbul gejala pada masa neonatus
Ø   Dispneu meningkat setelah terjadi peningkatan pirau kiri ke kanan dalam minggu pertama setelah lahir
Ø   Pada minggu ke2 atau 3 simptom mulai timbul akan tetapi gagal jantung biasanya baru timbul setelah minggu ke 6 dan sering didahului infeksi saluran nafas bagian bawah
Ø   Bayi tampak sesak nafas pada saat istirahat, kadang tampak sianosis karena kekurangan oksigen akibat gangguan pernafasan
Ø   Gangguan tumbuh kembang
Ø   EKG terdapat peningkatan aktivitas ventrikel kanan dan kiri
Ø   Radiology: pembesaran jantung nyata dengan conus pulmonalis yang tampak menonjol pembuluh darah hilus membesar dan peningkatan vaskularisasi paru perifer
7. Pemeriksaan fisik
§  VSD kecil
- Palpasi:
Impuls ventrikel kiri jelas pada apeks kordis. Biasanya teraba
getaran bising pada SIC III dan IV kiri.
- Auskultasi:
Bunyi jantung biasanya normal dan untuk defek sedang bunyi
jantung II agak keras. Intensitas bising derajat III s/d VI.
§  VSD besar
- Inspeksi:
Pertumbuhan badan jelas terhambat,pucat dan banyak kringat
bercucuran. Ujung-ujung jadi hiperemik. Gejala yang menonjol
ialah nafas pendek dan retraksi pada jugulum, sela intercostal
dan regio epigastrium.
- Palpasi:
Impuls jantung hiperdinamik kuat. Teraba getaran bising pada
dinding dada.
- Auskultasi:
Bunyi jantung pertama mengeras terutama pada apeks dan
sering diikuti ‘click’ sebagai akibat terbukanya katup pulmonal
dengan kekuatan pada pangkal arteria pulmonalis yang
melebar. Bunyi jantung kedua mengeras terutama pada sela iga
II kiri.
8. Pemeriksaan penunjang dan diagnostik
Ø   Kateterisasi jantung menunjukkan adanya hubungan abnormal antar ventrikel
Ø   EKG dan foto toraks menunjukkan hipertropi ventrikel kiri
Ø   Hitung darah lengkap adalah uji prabedah rutin
Ø   Uji masa protrombin ( PT ) dan masa trombboplastin parsial ( PTT ) yang dilakukan sebelum pembedahan dapat mengungkapkan kecenderungan perdarahan
9. Komplikasi
a.              Gagal jantung kronik
b.             Endokarditis infektif
c.              Terjadinya insufisiensi aorta atau stenosis pulmonar
d.             Penyakit vaskular paru progresif
e.              kerusakan sistem konduksi ventrikel
10. Penatalaksanaan
Ø   Pada VSD kecil: ditunggu saja, kadang-kadang dapat menutup secara spontan. Diperlukan operasi untuk mencegah endokarditis infektif.
Ø   Pada VSD sedang: jika tidak ada gejala-gejala gagal jantung, dapat ditunggu sampai umur 4-5 tahun karena kadang-kadang kelainan ini dapat mengecil. Bila terjadi gagal jantung diobati dengan digitalis. Bila pertumbuhan normal, operasi dapat dilakukan pada umur 4-6 tahun atau sampai berat badannya 12 kg.
Ø   Pada VSD besar dengan hipertensi pulmonal yang belum permanen: biasanya pada keadaan menderita gagal jantung sehingga dalam pengobatannya menggunakan digitalis. Bila ada anemia diberi transfusi eritrosit terpampat selanjutnya diteruskan terapi besi. Operasi dapat ditunda sambil menunggu penutupan spontan atau bila ada gangguan dapat dilakukan setelah berumur 6 bulan.
Ø   Pada VSD besar dengan hipertensi pulmonal permanen:operasi paliatif atau operasi koreksi total sudah tidak mungkin karena arteri pulmonalis mengalami arteriosklerosis. Bila defek ditutup, ventrikel kanan akan diberi beban yang berat sekali dan akhirnya akan mengalami dekompensasi. Bila defek tidak ditutup, kelebihan tekanan pada ventrikel kanan dapat disalurkan ke ventrikel kiri melalui defek.
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a.             Riwayat keperawatan : respon fisiologis terhadap defek (sianosis, aktifitas terbatas)
b.            Kaji adanya komplikasi
c.             Riwayat kehamilan
d.            Riwayat perkawinan
e.             Pemeriksaan umum : keadaan umum, berat badan, tanda – tanda vital, jantung dan paru
f.             Kaji aktivitas anak
g.            Kaji adanya tanda-tanda gagal jantung : nafas cepat, sesak nafas, retraksi, bunyi jantung tambahan (mur-mur), edema tungkai, hepatomegali.
h.            Kaji adanya tanda hypoxia kronis : clubbing finger
i.              Kaji pola makan, pertambahan berat badan.
2. Diagnosa Keperawatan
Pre op
1. Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan malformasi jantung.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan anak.
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplai oksigen ke sel.
4. Cemas berhubungan dengan ketidaktahuan terhadap penyakitnya
5. Gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan.
6.  Resiko gangguan pertukaran gas berhubungan dengan tidak adekuatnya ventilasi.
Post op
1. Gangguan rasa nyamam nyeri berhubungan dengan luka post op
2. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan

3. Rencana Keperawatan
Pre op
NO
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan kriteria  hasil
Intervensi keperawatan
rasional
1
Penurunan curah jantung yang berhubungan dengan malformasi jantung

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan penurunan curah jantung tidak terjadi dengan kriteria hasil
1.      Observasi kualitas dan kekuatan denyut jantung , nadi perifer, warna dan kehangatan kulit
2.      Tegakkan derajat cyanosis (misal : warna membran mukosa derajat finger)
3.      Berikan obat – obat digitalis sesuai order
4.      Berikan obat – obat diuretik sesuai order



1.       memberikan data untuk evaluasi intervensi dan memungkinkan deteksi dini terhadap adanya komplikasi.
2.       mengetahui perkembangan kondisi klien serta menentukan intervensi yang tepat.
3.       obat – obat digitalis memperkuat kontraktilitas otot jantung sehingga cardiak outpun meningkat / sekurang – kurangnya klien bisa beradaptasi dengan keadaannya.
4.       mengurangi timbunan cairan berlebih dalam tubuh sehingga kerja jantung akan lebih ringan.

2
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelelahan pada saat makan dan meningkatnya kebutuhan kalori.

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi dengan kriteria hasil :
-       makanan habis 1 porsi.
-       Mencapai BB normal
-       Nafsu makan meningkat.
  1. Hindarkan kegiatan perawatan yang tidak perlu pada klien
  2. Libatkan keluarga dalam pelaksanaan aktifitas klien
  3. Hindarkan kelelahan yang sangat saat makan dengan porsi kecil tapi sering
  4. Pertahankan nutrisi dengan mencegah kekurangan kalium dan natrium, memberikan zat besi.
  5. Sediakan diet yang seimbang, tinggi zat nutrisi untuk mencapai pertumbuhan yang adekuat.
  6. Jangan batasi minum bila anak sering minta minum karena kehausan






  1. menghindari kelelahan pada klien
  2. klien diharapkan lebih termotivasi untuk terus melakukan latihan aktifitas
  3. jika kelelahan dapat diminimalkan maka masukan akan lebih mudah diterima dan nutrisi dapat terpenuhi
  4. peningkatan kebutuhan metabolisme harus dipertahan dengan nutrisi yang cukup baik.
  5. Mengimbangi kebutuhan metabolisme yang meningkat.
  6. anak yang mendapat terapi diuretik akan kehilangan cairan cukup banyak sehingga secara fisiologis akan merasa sangat haus.




3
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidak seimbangan antara pemakaian oksigen oleh tubuh dan suplai oksigen ke sel.

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pasien dapat melakukan aktivitas secara mandiri dengan kriteria hasil :
-       pasien mampu melakukan aktivitas mandiri.
  1. Anjurkan klien untuk melakukan permainan dan aktivitas yang ringan.
  2. Bantu klien untuk memilih aktifitas sesuai usia, kondisi dan kemampuan.
  3. Berikan periode istirahat setelah melakukan aktifitas



  1. melatih klien agar dapat beradaptasi dan mentoleransi terhadap aktifitasnya.
  2. melatih klien agar dapat toleranan terhadap aktifitas.
  3. mencegah kelelahan berkepanjangan


4
Cemas berhubungan dengan ketidaktahuan terhadap penyakit.
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan cemas berkurang dengan kriteria hasil :
-       Pasien tidak bertanya-tanya.
-       Cemas berkurang. Pasien tidak tampak bingung.
  1. Orientasikan klien dengan lingkungan
  2. Ajak keluarga untuk mengurangi cemas klien jika kondisi sudah stabil
  3. Jelaskan keadaan yang fisiologis pada klien post op
  1. Menyesuaikan klien dengan lingkungan sekitar.
  2. Peran keluarga dalam mengatasi cemas pasien sangat penting.
  3. Untuk mempersiapkan klien lebih awal dalam mengenal situasinya.
5
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan tidak adekuatnya suplai oksigen dan zat nutrisi ke jaringan.
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan pertumbuhan dan perkembangan tidak terganggu dengan kriteria hasil :
-       BB dan TB mencapai ideal
  1. Monitor tinggi dan berat badan setiap hari dengan timbangan yang sama dan waktu yang sama dan didokumentasikan dalam bentuk grafik.
  2. Ijinkan anak untuk sering beristirahat dan hindarkan gangguan pasa saat tidur.
  1. mengetahui perubahan berat badan
  2. tidur dapat mempercepat pertumbuhan dan perkembangan anak.

6
Resiko gangguan pertukaran gas berhubungan dengan tidak adekuatnya ventilasi

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan gangguan pertukaran gas tidak terjadi dengan kriteria hasil :
-       Pertukaran gas tidak terganggu.
-       Pasien tidak sesak.
  1. Berikan respirasi support ( 24 jam post op )
  2. Analisa gas darah
  3. Batasi cairan



  1. Untuk meminimalkan resiko kekurangan oksigen.
  2. Untuk mengetahui adanya hipoksemia dan hiperkapnia.
  3. Untuk meringankan kerja jantung.

Post op
NO
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan kriteria  hasil
Intervensi keperawatan
rasional
1
Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan luka post op

Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan nyeri berkurang dengan kriteria hasil :
-       nyeri dengan skala 0-3
-       pasien tidak tampak meringis.
  1. Periksa sternotomi
  2. Catat lokasi dan lamanya nyeri
  3. Bedakan nyeri insisi dan angina
  4. Kolaborasi dengan dokter dengan memberikan obat – obat analgetik
1.      Untuk mempermudah status nyeri.
2.      Untuk menilai status nyeri.
3.      Untuk menentukan intervensi yang tepat.
4.      Untuk mengatasi nyeri yang tidak tertangani.
2
Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan pembedahan
Setelah diberikan asuhan keperawatan diharapkan infeksi tidak terjadi dengan kriteria hasil :
-       Tanda-tanda infeksi berkurang
1.         Dorong teknik mencuci tangan dengan baik
2.         Kaji kondisi luka pasien
3.         Berikan antibiotik sesuai dengan indikasi
1.      Mencegah infeksi nosokomial saat perawatan.
2.      Mengetahui apakah terjadinya tanda-tanda infeksi
3.      Pemberian antibiotik dapat mecegah terjadinya infeksi.


4.      Evaluasi
Pre op :
a.        Curah jantung berada dalam kondisi normal
b.        Kebutuhan nutrisi terpenuhi
c.        Intoleransi aktifitas bisa diatasi
d.       Ansietas bisa diatasi dan pasien bisa releks kembali
e.        Pertumbuhan dan perkembangan tidak terganggu
f.         Tidak terjadi ketidak efektifan pertukaran gas
Post op:
a.                     Tidak ada nyeri
b.                     Tidak terjadi resiko infeksi
DAFTAR PUSTAKA
Perhimpunan Dokter Penyakit Dalam Indonesia.2006.Ilmu Penyakit Dalam.Jakarta:FKUI
Cecily L. Bets, Linda A. Sowden, Buku Saku Keperawatan Pediatri, Edisi 3, Jakarta : EGC, 2002.
Junadi dkk, Kapita SElekta kedokteran, Ed2, Media Aesculapius, FKUI, 1982
http://www.layurveda.com/index.php?option=com_content&view=article&id=21%3Aadmin&catid=7%3Aadmin&Itemid=20&lang=en